pada hari selasa, waktu yang sama dengan pertemuan sebelumnya: ba’da ashar, kami bertemu lagi. Bertemu, berkumpul, berbincang, melapor, mencurahkan. oya, pelakunya bertambah lagi empat orang: puput sang putri kegelapan, uti notulen dadakan, oboy si anak demang, dan… bradur.
karena ada para pelaku yang baru gabung, jadi pertemuan dimulai dengan cerita latar belakang komunitas bangku lauk.
pembahasan pertama adalah tentang tiga opsi yang telah dibahas pada pertemuan pertama, ternyata kurang pas. masalahnya, ras masih serumpun, tidak terlalu menghargai budaya, dan masalah politik yang sedang cukup panas.
ide baru, sekalian saja ke eropa atau korsel, korea selatan -selatan, jangan utara. masih komunis- karena korsel lagi rame-ramenya cultural exchange.
kalau eropa, kita punya banyak link bagus. ke belanda, laras. teman ibunya laras tuh atase perdagangan di belanda. jerman, kang dian yang punya… hmm… organisasi kebudayaan atau apa? maaf lupa.
ya sudaah, kita cari eropa atau korsel saja.
terus, ke eropa lewat jalur apa? setelah didiskusikan, mungkin lebih pas kalau kita lewat jalur universitas-universitas.
waktunya? disesuaikan dengan universitas di sana, perkuliahan di sini, dan harga tiket: jangan summer! mahal! jadi? april atau oktober 2009! fiuh…
kami juga mendiskusikan masalah kepengurusan yang bakal ngerasa dilangkahi… dan kesimpulannya adalah kita bakal ngasihtau ke pengurus baru setelah progres kita sendiri sudah sangat maju, yaa… anggaplah lebih dari limapuluh persen. biarlah pengurus baru menjalankan kepengurusan yang sudah punya banyak tantangan bahkan sebelum kepengurusan itu dimulai…
untuk pembagian tim, kesenian yang bakal ditampilkan adalah:
1. rampakendang
2. tari (dari laras salendro.)
untuk tari, dipilih kembang tanjung untuk mewakili jaipongan, kangsreng untuk ketuk tiluan, merak untuk mewakili tari klasik. sementara “jatah” tigapuluh orang sudah sangat tercukupi dengan sekian macam kesenian.
tambahan, melanjutkan pembicaraan tentang waditra… untuk jaga-jaga siapatau nanti waditra yang ada tidak bisa dibawa. sudah ada waditra kang asep untuk “dipinjam” lalu dijual di sana…